Cara Memenangkan Perdebatan: 10 Hal yang Harus Anda Lakukan dan Tinggalkan

 Materi yang bagus saja tidak cukup untuk memenangkan perdebatan dengan seseorang. Anda juga harus bisa membuatnya terbujuk dengan ajakan Anda. Tapi Anda juga butuh beberapa skill seputar komunikasi, seperti bahasa tubuh, intonasi cara penyampaian, pemilihan bahasa, pemasangan pemikiran, dan lain-lain.

Nah, berikut ini adalah 10 taktik yang harus Anda lakukan, dan jangan Anda lakukan, yang bisa membuat lawan debat Anda tak berkutik lagi untuk melawan Anda.

1. Say with The Fact and the Data

Sekiranya Anda beranggapan bahwa air itu bisa memadamkan api, sedangkan lawan Anda beranggapan bahwa minyak itu bisa memadakan api, maka, satu-satunya cara untuk membuktikan siapa yang benar adalah dengan mencobanya langsung. Maka, ketika fakta telah “berbicara”, selesai sudah, perdebatan tersebut pun akan berhenti. Karena kebenaran langsung terlihat.

Yah, mirip seperti itu pulalah kasus perdebatan Anda, bila Anda menggunakan fakta dan data. Karena memang fakta dan data itu tak akan bisa dinafikan. Maka, sebelum Anda memulai perdebatan, persiapkanlah data-data Anda. Ntah itu berupa statistik rekapan, hasil survey, studi kasus, dan lain-lain.

Maka dari itu, jangan pernah Anda katakan:

  • “Kayaknya..”
  • “Mungkin..”
  • “Sepertinya..”

ketika ingin mengangkat sesuatu, untuk menjatuhkan argumen lawan.

2. Tetap Tenang, Jangan Panik

Sekiranya ketenangan Anda mulai hilang, agak sedikit panik, kemudian emosi Anda mulai agak lumayan naik, itu sama dengan memperbesar kemungkinan Anda akan menambah-nambahkan sesuatu maupun mengurang-ngurangi sesuatu. Karena yang namanya emosi dan perasaan, serba tidak pasti. Ketika saat seperti inilah, argumen Anda jadi mudah dibantai.

Hal ini berkaitan erat dengan cara pertama di atas. Anda bisanya panik kalau tidak memiliki data dan argumen yang dasarnya kuat.

Sebaliknya, buatlah agar lawan bicara Anda yang malah menjadi panik, dan mulai kehilangan ketenangannya. Karena kalau dia sudah panik, tak tahu mau bicara apa, maka dia akan cenderung bicara yang ngawur. Sebab, dia tidak akan membiarkan dirinya diem saja. Otomatis langsung kelihatan deh kelemahannya. Kalau sudah begitu, bahkan tanpa kita berbicara apapun, audiens sudah bisa menilai bahwa ia telah gagal.

Artikel Lainnya:  5 Cara Menolak Ajakan dan Permintaan Tolong Orang, Tanpa Membuatnya Merasa Nggak Enakan

3. Gunakan Logika

Logika adalah sesuatu yang benar menurut semua manusia yang memilki akal sehat. Tidak bisa tidak, untuk mengiyakan si lawan debat, Anda harus memuaskan akalnya. Jangan buat pengaruh melalui perasaannya.

Tunjukkanlah bagaimana sesuatu itu terjadi karena sebuah sebab, dan bagaimana sesuatu itu akan menghasilkan sebuah akibat.

4. Lemparkan Pertanyaan

Pertanyaan bisa menjaga sebuah perdebatan agar sifatnya tetap fair. Jangan sampai Anda terpengaruhi oleh lawan debat Anda. Kadang, Anda bisa terkena pengaruh dari si lawan debat, ketika dia melemparkan sebuah pernyataan yang kelihatannya bener banget. Nah, untuk menangkalnya, tanyakanlah sesuatu padanya. Ntah pertanyaan itu berupa “kenapa”, “bagaimana”, dan lain-lainnya. Karena kerapnya, sebuah pertanyaan itu lebih sulit disangkal, daripada sebuah pernyataan. Misalnya, begini.

5. Dengarkan dulu Apa yang Lawan Katakan

Sayangnya, nggak sedikit orang yang terlalu reaktif. Mereka sudah memikirkan dulu mau bilang apa, sehingga mereka nggak mendengar apa-apa yang lawan mereka katakan dari awal sampai akhir.

Padahal, kalau setiap kata-kata yang lawan sampaikan didengar seluruhnya, Anda bisa mengetahui dimana letak kesalahan dan kekurangannya. Serta, bisa kelihatan pula apa dan dimana kelemahannya, agar kemudian bisa Anda sangkal dia dari situ.

6. Jangan Menyerang Orangnya, Serang Argumennya

Sekali lagi, jaga diri Anda, agar emosi Anda tidak naik. Karena, kalau emosi sudah naik tengah berdebat, biasanya orang tersebut akan mulai mencari-cari kejelekan lawan bicaranya. Bukannya berusaha menguatkan argumen dirinya, dan melemahkan argumen lawannya.

7. Jangan Sampai Teralihkan

Tetaplah fokus pada apa argumen yang ingin Anda angkat, dan fokus menunjukkan apa-apa yang tak pantas naik. Jangan sampai Anda dialihkan si lawan debat, untuk mengangkat hal lain, dan menjatuhkan hal yang lain lagi.

Lagipula, ini adalah peluang Anda. Ketika dia berusaha mengalihkan Anda ke persoalan yang lain, berarti dia tidak memiliki argumen kuat di persoalan yang sebelumnya.

Artikel Lainnya:  Kebencian itu Bukanlah Sesuatu yang Salah. Boleh Saja, Tergantung Membenci Apa Dulu

8. Persiapkan Hal Teknis dengan Matang

Biasanya seseorang suka menanyakan hal-hal yang teknis kepada si lawannya, untuk membuktikan apakah argumen yang disampaikan lawannya itu benar-benar worked, sehingga bisa diadopsi. Maka, Anda persiapkanlah diri Anda sekiranya Anda ditanyai hal teknis. Meski memang tidak mungkin semuanya bisa Anda paparkan, paling tidak, Anda memang sudah punya saja dulu konsepnya.

Sebaliknya, Anda juga bisa menjatuhkan si lawan, dengan cara meminta agar si lawan memberitahuan detail argumennya. Seperti halnya bertanya

  • “Contohnya gimana?”
  • “Apa indikasinya?”
  • “Memangnya defenisi ‘anu’ itu apa?”
  • “Bagaimana prosesnya?”
  • “Sudah ada belum faktanya?”
  • Dan sebagainya.

9. Kategorikan Kekuatan Argumen yang Kuat dan Rendah

Pastinya Anda sudah menyiapkan beberapa argumen sebeleum diskusi dimulai kan? Nah, cobalah kategorikan, mana argumen yang kuat, dan mana yang tidak begitu kuat. Mana data yang lebih dipercaya, mana data yang masih dipertanya-tanyakan. Lalu, agar nanti ketika Anda tengah mulai berdiskusi, Anda bisa memilih menggunakan argumen-argumen yang kuat dulu.

10. Buat Agar si Lawan Debat yang Menjawab Pertanyaannya Sendiri

Masksudnya, pada cerita berikut ini. Kemarin, ada seorang Dosen yang mengisi di salah satu Kampus. Kemudian, ada seorang mahasiswa yang menyatakan sesuatu, “Ah, Islam itu diskriminatif!! Buktinya, bisakah orang yang non-muslim menjadi pemimpin?”

Lalu, Ustadz tersebutpun hanya tinggal membalikkan argumen tersebut, “Kalau saya, bisakah menjadi anggota BEM disini? Tidak bisa kan? Tapi, bisa saja saya daftarkan diri ke Kampus ini sebagai mahasiswa, maka bisalah saya menjadi anggota BEM?”

Yaps, membuat pertanyaan yang memancing si lawan untuk mengiyakan sesuatu, yang mana iyanya itu memang bisa ia sepakati, lebih manjur daripada kita mengguruinya.

Begitulah kurang-lebih, 10 cara yang biasa dikenakan oleh orang-orang yang akhirnya bisa memenangkan sebuah perdebatan. Kira-kira, apakah Anda punya cara lain yang lebih ampuh?

Sumber bahan gambar: Flickr

BAGIKAN
Mufakir adalah seorang otaku tobat yang merasa dirinya masih belum banyak bermanfaat bagi orang lain, dan berusaha selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. Baginya sukses itu sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin. Passion menulis artikel seputar motivasi dan produktivitas.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar