Allah adalah Dzat yang Hakiki, Dan WujudNya Bisa Dirasakan. Bukan Sekedar Khayalan dalam Otak Manusia

Allah adalah Dzat yang Hakiki, Dan WujudNya Bisa Dirasakan. Bukan Sekedar Khayalan dalam Otak Manusia
Sumber gambar: Wikimedia.org

Banyak orang di muka Bumi ini, terutama di dunia Barat, yang meyakini dan mengimani adanya Tuhan. Tetapi, keyakinan dan keimanan mereka ini didasarkan pada suatu anggapan, bahwa Tuhan itu hanyalah sekedar gagasan, bukan fakta real.

Mereka beranggapan bahwa percaya pada ”Tuhan” berarti mempercayai “ide ketuhanan”. Suatu ide yang mereka anggap bagus. Sebab, selama seseorang berkhayal tentang ide tersebut, meyakini, dan mengikuti khayalannya, dia akan terdorong untuk menjauhi keburukan dan mengerjakan kebaikan.

Tentu ini, menurut mereka, merupakan dorongan dari dalam yang pengaruhnya lebih kuat dibandingkan dorongan dari luar.

Karena itu, mereka beranggapan, bahwa percaya pada Tuhan merupakan suatu keharusan, dan (keimanan semacam ini) harus digalakkan agar manusia dengan suka rela tetap terdorong melakukan kebajikan dengan dorongan dari dalam dirinya, yang mereka namakan sebagai wazi’ dini (kontrol agama).

Orang-orang yang berpandangan seperti itu sangat mudah terjerumus kedalam atheisme, atau murtad dari sesuatu yang mereka yakini; ketika akal mereka mulai berpikir dan mencoba menjangkau hakikat Tuhan yang mereka khayalkan, namun ketika akal tidak mampu menjangkaunya, atau menjangkau tanda-tanda-Nya, mereka dengan segera mengingkari wujud Tuhan dan kufur kepada Allah.

Lebih celaka lagi, keyakinan bahwa Tuhan itu hanyalah gagasan, bukan fakta real, juga bisa menyebabkan perbuatan baik dan buruk hanya sekedar ide, bukan fakta real. Akibatnya, seseorang akan mengerjakan atau menjauhi suatu perbuatan, menurut kadar khayalannya tentang ide kebaikan dan keburukan tersebut.

Penyebab mereka memiliki keyakinan semacam itu adalah karena mereka tidak menggunakan akalnya dalam beriman kepada Allah. Mereka tidak berusaha menguraikan secara rasional simpul besar (‘uqdah kubra), yaitu pertanyaan natural tentang alam semesta, manusia dan kehidupan; tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta keterkaitan ketiganya (alam semesta, manusia, dan kehidupan) tersebut dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan ini. Mereka hanya mendapatkan penyelesaian yang telah diberikan oleh pendikte mereka.

Mereka menerima penyelesaian ini, dan tetap beriman tanpa berusaha menjangkau secara inderawi apa yang mereka yakini. Ironisnya, banyak di antara mereka yang berusaha menggunakan akalnya, namun justru mereka selalu mendapat jawaban, seolah-olah agama ini di luar jangkauan akal (irasional). Akhirnya, mereka pun dipaksa diam.

Artikel Lainnya:  10 Tips Ramadhan Agar Kita Sehat dan Berberkah [Infographic]

Seharusnya, yang benar adalah, bahwa Allah merupakan Dzat yang hakiki (nyata ada). Bukan Sekedar khayalan. WujudNya pun dapat dijangkau dan diindera, meski mustahil untuk menjangkau dan melihat DzatNya. Bukankah Anda melihat bahwa, seseorang bisa meyakini adanya pesawat hanya dengan mendengarkan suaranya yang menggema di udara, meskipun dia berada di dalam ruangan.

Dengan kata lain, melalui indera yang bisa mendengarkan bunyi pesawat terbang, dia bisa menjangkau adanya pesawat tersebut, meski dia sendiri tidak melihat dan tidak mampu mengindera dzatnya. Dia meyakini keberadaan pesawat tersebut hanya dengan mendengar suaranya. Dia juga membenarkan dengan pasti, dan yakin keberadaan pesawat terbang tersebut.

Menjangkau “keberadaan” pesawat tentu berbeda dengan menjangkau zatnya. Memahami dzatnya tidak akan diperoleh, ketika dzatnya tidak bisa dijangkau. Berbeda dengan menjangkau keberadaannya, yang dengan pasti tetap bisa dilakukan melalui suaranya. Keberadaan pesawat terbang adalah suatu hal yang nyata, bukan sekedar ide khayalan.

Demikian pula segala sesuatu yang bisa dijangkau oleh indera manusia, maka keberadaannya merupakan perkara yang pasti dan meyakinkan, karena dapat disaksikan dan diindera. Begitu pula adanya sifat saling membutuhkan antara satu benda dengan yang lain merupakan sesuatu yang pasti, karena bisa disaksikan dan dindera oleh manusia.

Tata surya di angkasa membutuhkan aturan. Sebagaimana api membutuhkan si pemakai untuk bisa menyala. Hal yang sama juga berlaku pada segala sesuatu yang dapat diindera. Semuanya pasti membutuhkan pada yang lain.

Karenanya, segala sesuatu yang membutuhkan kepada yang lain, tidak mungkin bersifat azali (ada dengan sendirinya, tidak berawal dan tidak berakhir). Sebab ketika ia bersifat azali, maka ia tidak akan membutuhkan pada yang lain.

Dengan adanya sifat membutuhkan pada yang lain inilah, menunjukkan bahwa ia tidak bersifat azali. Dengan demikian, merupakan sesuatu yang pasti, bahwa segala yang dapat dijangkau dan diindera, semuanya jelas merupakan makhluk. Sebab, semuanya tadi tidak bersifat azali. Jadi, semuanya tadi merupakan makhluk (ciptaan) Dzat yang Maha Pencipta.

Penginderaan terhadap makhluk sama dengan penginderaan terhadap suara pesawat merupakan sesuatu yang pasti. Keberadaan Sang Pencipta yang menciptakan seluruh makhluk ciptaanNya, laksana keberadaan pesawat yang mengeluarkan suara, merupakan sesuatu yang pasti juga. Jadi keberadaan Khaliq bagi seluruh makhlukNya merupakan sesuatu yang tidak mungkin diingkari.

Menusia telah memahami makhluk tersebut dengan indera dan akalnya. Dengan mengindera makhluk tersebut, dengan pasti manusia bisa memahami keberadaan Penciptanya. Dengan demikian, keberadaan Sang Pencipta ini merupakan sesuatu yang nyata adanya, karena keberadaanNya bisa dijangkau oleh manusia melalui inderanya. Dia bukanlah sekedar ide (khayalan) dalam benak manusia.

Artikel Lainnya:  Cara Bersyukur Itu Bukan Sekadar Berucap "Alhamdulillah", Tapi Juga Bertaqwa PadaNya

Secara rasional, Al-Khaliq (Dzat yang Maha Pencipta) itu wajib bersifat Azali. sebab, jika Dia tidak bersifat Azali, tentu dia membutuhkan pada yang lain. Bila demikian, berarti dia makhluk (bukan Pencipta).

Karena itu, secara nyata alam semesta ini tidak bersifat azali, karena jelas membutuhkan aturan dan kondisi tertentu, yang mau atau tidak, harus selalu terikat pada aturan dan kondisi tersebut.

Begitu pula dengan materi, jelas tidak azali. Karena materi jelas membutuhkan pada yang lain. Materi tidak bisa berubah dari satu kondisi ke kondisi yang lain, kecuali dengan proporsi dan aturan tertentu, serta mau atau tidak pasti terikat pada aturan tertentu. Dengan demikian, materi ini membutuhkan pada yang lain.

Karena itu, baik alam maupun materi bukanlah Al-Khalik (Dzat yang Maha Pencipta). Sebab, keduanya tidak bersifat azali dan qadim (Maha Dahulu/Tidak ada yang Mendahului). Maka, tidak ada kemungkinan bagi pencipta yang lain, selain Allah SWT. Dengan kata lain, Dialah Dzat yang Maha Azali dan Qadim, yang sebagian orang menyebut “Allah”, “God”, “Sang Hyang Widi”, atau sebutan-sebutan lain yang sejenis. Semuanya menunjukkan maksud yang sama, yaitu Allah, Dzat yang Maha Pencipta, yang Azali dan Qadim.

Dengan demikian, Allah adalah Dzat yang nyata ada, yang dapat dijangkau eksistensiNya oleh indera manusia melalui keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Tatkala manusia takut kepada Allah, sebenarnya dia takut kepada dzat yang benar-benar ada, yang eksistensiNya dapat dijangkau eksistensi-Nya melalui inderanya.

Begitu juga ketika dia memohon ridha Allah, sesungguhnya dia tengah memohon ridha kepada Dzat yang eksistesiNya dapat dijangkau oleh inderanya. Karena itu, taatkala manusia takut dan beribadah kepada Allah, serta memohon ridha-Nya, semua itu dia lakukan dengan penuh keyakinan, tanpa sedikit pun keraguan.

Sumber: Ismail, Muhammad. 2014. Fikrul Islam. Bogor: Al-Azhar Press.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar

BAGIKAN
Dani Siregar
Marketing TeknikHidup.