Apakah Tuhan itu Ada? Begini Bukti Adanya Tuhan

apakah Tuhan itu ada?

Semakin tumbuh dewasanya seseorang, maka dia akan makin bisa berpikir. Termasuk, dia akan berpikir sebetulnya untuk apa dia melakukan rutinitas-rutinitas yang kadang rasanya itu melelahkan, dan menyebalkan. Seperti misalnya pekerjaan Sekolah, Kuliah, Kantor, bisnis, Rumah tangga, dan lain-lain sebagainya.

Ketika rasa tidak enaknya terus memuncak, maka dia akan terus mempertanyakan, sebenarnya kenapa harus melakukan hal tersebut? Biasanya, jawabannya karena itu disuruh orang tua. Memang begitu yang diajarkan orang tua. Dan memang orang tuanya itu diajarkan orang tuanya juga, alias neneknya. Sedangkan neneknya itu dapat dari neneknya juga. Dan neneknya nenek tersebut pun dapat dari neneknya. Pun neneknya nenek nenek tersebut dapat dari neneknya juga…

Hingga akhirnya dia bertanya, sebetulnya siapa nenek yang paling atas itu? Gimana ceritanya kok dia nentuin kita? Apa nenek itu Tuhan, yang menciptakan kita, sehingga dia berhak menyuruh-nyuruh kita?

Sebetulnya, dari manakah manusia, alam semesta, dan kehidupan ini berasal?

Selain itu, apa memang kita harus seperti itu terus sehingga nanti lulus pendidikan formal, kerja, nikah, besarin anak; maka nanti anak kita akan kita buat ia mengulangi apa yang pernah kita alami juga? Dan cucu kita pun harus mengulangi hal yang begitu juga? Begitu terus sampai anaknya anak dari anak tersebut? Sampai kapan? Emangnya akan bagaimana akhirnya manusia, alam semesta dan kehidupan ini? Akan ke mana?

Sebetulnya, untuk apa manusia, alam semesta, dan kehidupan ini ada?

Inilah yang menjadi persoalan utama.

Apabila pertanyaan tersebut tak terjawab, buat apa kita harus sholat? Berarti sekali-sekali sholat nggak apa-apa? Buat apa kita sekolah, kuliah, kerja? Berarti sekali-sekali nggak usah sekolah, kuliah, kerja, nggak apa-apa dong? Malah nggak usah sama sekali aja sekalian? Jika, tidak ada argumen yang jelas 100% benar bahwa kita harus melakukan hal tersebut.

Maka dari itu, jawaban akan hal tersebut akan menjadi landasan kehidupan seseorang. Yang notabene jawaban tersebut akan senantiasa diemban dan dipraktekkan. Termasuk pada saat berinteraksi dengan orang lain, pada saat kerja, pada saat berekonomi, pada saat bersosial, bahkan sampai mengajak-ajak orang lain agar ikut mengemban keyakinan tersebut juga.

Misal, ada seseorang atau kaum yang punya jawaban berupa keyakinan bahwa alam semesta ini semuanya ada dengan sendirinya. Katanya, “Makhluk hidup itu berasal dari materi, dan kelak akan kembali lagi menjadi materi. Manusia itu hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama ia mampu hidup.”

Dengan jawaban seperti itu, maka dia akan melakukan hal-hal apa saja yang ia anggap layak dilakukan. Dia membuat sendiri hukum dan standartnya. Tentu dia seperti itu pada saat berekonomi, bersosial, dan berpolitik.

Paham seperti ini biasa disebut dengan istilah atheisme. Sedang orangnya disebut atheis. Bila dijadikan satu paket kehidupan, istilahnya adalah ideologi sosialisme-komunisme, yang notabene pandangan hidupnya yang paling mendasar adalah dialektika materi.

Misal lain, ada juga seseorang atau kaum yang punya jawaban berupa keyakinan bahwa di balik alam semesta dan kehidupan ini ada Sang Pencipta Yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya.

Katanya, “Sang Pencipta memberikan tugas kepada manusia, selama ia hidup. Karena kelak ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia, kemudian pada saat itu Sang Pencipta akan memintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya pada saat hidup di dunia. Apabila sesuai tugas, maka ia akan berada di suatu tempat yang sangat menyenangkan, yakni di Surga, untuk selama-lamanya. Kalau tidak, maka ia berpotensi akan berada di suatu tempat yang sangat menyengsarakan, yakni di Neraka, untuk selama-lamanya.”

Dengan keyakinan itu, maka mereka akan menjalani hidupnya yaah sebagaimana keyakinan itu. Pada saat berekonomi, berbudaya, bersosial, berpolitik; semuanya akan diusahakan agar sesuai dengan tugas yang diberi Tuhan. Jangan sampai menyimpang. Karena tempat kembali hanya ada dua, Surga atau Neraka.

Setidaknya, itulah dua pandangan mendasar. Yakni; pertama, pandangan bahwa Tuhan itu tidak ada. Kedua, pandangan bahwa Tuhan itu ada.

Terus, yang mana yang benar?

Nah, untuk bisa mengetahui pandangan yang mana yang benar, apakah Tuhan itu ada atau tidak; haruslah kita indera fakta manusia, alam semesta, dan kehidupan; dengan pendinderaan yang cemerlang, sedalam-dalamnya penginderaan. Agar kemudian kita mendapatkan jawaban yang benar; yakni yang memuaskan akal, sesuai dengan fitrah manusia, sehingga menenangkan hati.

Kalau gitu, pertama-tama, mari kita dalami fakta manusia. Kita harus bisa mendapatkan informasi fakta manusia. Yang namanya informasi fakta, maka setiap orang harus mengiyakannya. Tidak boleh ada manusia yang menafikan informasi tersebut. Kalau ada yang menyanggah informasi tersebut tidak faktual, berarti itu bukan fakta.

Fakta Manusia

Siapapun yang akalnya sehat, pasti akan mendapati bahwa faktanya manusia itu:

  • Terbatas
  • Teratur
  • Terpaksa
  • Lemah
  • Serba kurang
  • Bergantung
  • Dan sebagainya

Itulah faktanya.

Fakta, manusia itu terbatas

Contoh fakta manusia itu terbatas; ada saat ia lahir, ada saat ia mati. Ada awalnya, ada akhirnya. Ini fakta yang pasti. Kalau ada manusia yang menafikan fakta informasi ini, berarti (mohon maaf) dia gila. Kalau ada yang mengatakan manusia itu abadi takkan mati, sungguh informasi tersebut tak faktual.

Saya belum pernah melihat di depan mata saya orang yang usianya 200 tahun. Zaman sekarang, biasanya usia orang paling jauh itu sekitar 100 tahun, kemudian hidupnya pun berakhir. Ada satu batas manusia yang tak bisa ia lampaui.

Fakta, manusia itu teratur dan terpaksa

Contoh fakta manusia itu pasti teratur dan terpaksa pun banyak.

  • Kalau kita mau jalan dari Rumah ke Warung, maka kaki kita terpaksa nempel di Bumi. Kita nggak bisa terbang melayang. Begitulah kita terpaksa dan teratur.
  • Ada saatnya kita lapar, haus, dan ngantuk. Maka, tidak ada cara lain untuk mengatasi lapar kecuali dengan makan. Tidak ada cara lain untuk mengatasi haus kecuali dengan minum. Tidak ada cara lain untuk mengatasi ngantuk kecuali dengan tidur. Begitulah kita terpaksa dan teratur.
  • Kita pun punya fitrah tertarik terhadap lawan jenis. Dan hanya dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan, maka lahir manusia baru. Begitulah kita terpaksa dan teratur.
  • Jantung kita pun berdetak terus selama berpuluh-puluh tahun. Tidak pernah sekalipun berhenti. Meskipun Anda teriakin dia tiap hari “Hei jantung coba Kamu berhenti dulu sebentar!” maka ia takkan berhenti. Itu pun juga terpaksa dan teratur.
  • Itu baru jantung. Belum lagi kalau Anda belajar Biologi, betapa luar biasanya algoritma sistem pernafasan manusia, sistem pencernaan manusia, sistem reproduksi manusia; demikian luar biasa algoritma tersebut. Sangat rapih, sungguh teratur.
  • Dan masih banyak contoh lainnya..
Artikel Lainnya:  10 Tips Ramadhan Agar Kita Sehat dan Berberkah [Infographic]

Itu semua fakta. Kalau ada yang menyanggah, berarti mohon maaf dia gila. Karena dia menyanggah fakta.

Fakta, manusia itu lemah, serba kurang, dan bergantung

Contoh manusia itu lemah, serba kurang, dan bergantung pun juga demikian banyak. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendirian. Manusia itu butuh manusia lainnya, butuh makanan, butuh alat-alat dan benda-benda, butuh hewan dan tanaman, dan sebagainya.

Dengan kata lain, ia serba kurang, dan senantiasa bergantung pada yang lain.

Coba saja:

  • Anda hidup tanpa nasi, kentang, roti; bisakah?
  • Tanpa air, bisa?
  • Bahkan tanpa baju, bisa?
  • Tanpa sendal, gimana?
  • Tanpa handphone, mau?
  • Tanpa tukang pijat, bisa memijat sendiri?
  • Tanpa tukang pangkas, Anda bisa cukur rambut Anda sendiri?

Kalau Anda ngaku hebat, nggak mau dibilang lemah; yah coba aja lepas segala-galanya. Tahan berapa hari palingan? Tidak mungkin bisa bertahan. Karena faktanya, Anda serba kurang, dan Anda pasti bergantung pada yang lain.

Coba Anda saat diundang ke suatu Hotel, jaraknya 10 kilo meter, maukah Anda jalan kaki ke sana? Pasti males. Anda pinginnya ada mobil atau motor, baru nggak males. Tuh kan, lemah.. serba kurang.. dan bergantung…

bukti adanya Tuhan

Sampai disini, Anda sepakat kan? Pernyataan-pernyataan di atas itu adalah pernyataan pasti dan faktual pada manusia, right? Exactly, right.

Fakta alam semesta

Alam semesta itu adalah, kumpulan benda-benda di angkasa. Nah, ternyata, fakta alam semesta ini juga sama dengan fakta manusia. Yaitu, terbatas, terpaksa, teratur, lemah, dan bergantung.

Lihatlah planet Bumi, bentuknya agak bulat. Ia terpaksa jadi bulat begitu. Meskipun kita udah bosen gitu-gitu aja, kepingin ganti bentuk jadi kotak, tetep aja dia nggak bisa.

Udah gitu, bumi itu asih berputar-berputaaaar melulu.. dan berputarnya di porosnya saja.. Ajaibnya, dia nggak pernah capek..

Tidakkah Anda bertanya, energi apa yang membuatnya bisa terus berputar seperti itu? Siapa yang memutarnya seperti itu? Pesawat saja terbangnya itu maksimal sekitar 7 sampai 10 jam, setelah itu ia sudah harus mendarat. Tidak bisa terbang melulu. Kalau mau terbang lagi, isi dulu bahan bakarnya.

Terus Bumi ini gimana ceritanya dia tuh? Udah berjuta-juta tahun berputar terus begitu, bahan bakarnya apa coba? Dia tak pernah protes satu kali pun. Udah gitu, berputarnya melawan arah jarum jam lagi.

Dan yang tak kalah keren lagi, selain memang dia berputar pada porosnya, dia itu juga berevolusi mengelilingi matahari, berbarengan dengan tata surya lainnya. Sangkin mantapnya, titik orbitnya pun tak pernah bergeser 1 milimeter pun! Dan jangan lupa, tanpa pilot! Kebayang nggak? Pesawat yang udah ada pilot dan teknologi secanggih apapun aja nggak bisa kayak Bumi gitu..

bukti Tuhan itu ada

Padahal seandainya Bumi itu bergeser 2 milimeter saja mendekati ke matahari, maka seluruh permukaan Bumi akan hangus.. Kalau bergeser 1 milimeter saja menjauhi matahari, maka seluruh permukaan Bumi akan membeku.. Berarti, memang selama ini dia 100% akurat nan tepat di orbitnya itu…

Cobalah pikirkan, siapa yang memaksa Bumi itu jadi seperti itu? Jelaslah, ia bersifat terbatas, teratur, terpaksa, lemah, dan berketergantungan.

Iyaps, berketergantungan. Semua benda-benda di angkasa itu semuanya saling bergantung. Itu sebabnya posisi Bumi bisa seperti itu, itu karena daya tarik-menarik antar benda-benda di angkasa. Kalau ada perubahan sedikit aja, terus Bumi terpental, maka hancurlah semua itu seluruh isi Bumi itu..

Itu baru bahas Bumi. Belum lagi bahas bagaimana algoritma air, batu, listrik, dan sebagainya. Kalau kita indera faktanya, tentu akan kita temukan pula; bahwa alam semesta ini bersifat terbatas, teratur, terpaksa, lemah, dan berketergantungan.

Fakta kehidupan

Kehidupan pun bersifat terbatas. Satu kehidupan yah hanya ada pada satu individu. Sekali selesai satu hidup individu, maka yah selesailah hidupnya individu itu. Ia tidak bisa punya hidup baru lagi, sebagaimana yang dikhayalkan dongeng reinkarnasi. Reinkarnasi itu pembodohan, karena tak faktual.

Kita juga tidak bisa membagi setengah nyawa kita untuk menghidupkan orang lain yang sudah selesai hidupnya.

Maka dari itu, fakta bahwa kehidupan pun bersifat terbatas, teratur, terpaksa, lemah, dan berketergantungan.

Kesimpulannya

Apa yang bisa disimpulkan dari 3 kepastian tersebut?

Artikel Lainnya:  Pergi Kerja Pagi-Pagi Banget Itu Termasuk Orang Cinta Dunia Lupa Akhirat, Benarkah?

Kita telah mendapatkan fakta apa saja yang pasti-pasti pada manusia, alam semesta, dan kehidupan. Berarti, kesimpulannya adalah, manusia, alam semesta, dan kehidupan itu, mustahil bersifat azali.

pembuktian wujud Tuhan

Azali itu artinya, tidak berawal dan tidak berakhir. Kekal gitu. Selalu adaaa terus.

“Mustahil” itu kebalikan dari “pasti”. Kalau mustahil azali, berarti…?? Berarti; manusia, alam semesta, dan kehidupan, pasti ada Yang Menciptakannya, pasti ada Yang Mengaturnya, pasti ada Yang Memaksanya.

Dengan kata lain, pasti ada eksistensi Sang Pencipta.

Tidak mungkin semua apa-apa yang ada di sekeliling kita ini, yang kita indera ini, bisa menjadi ada secara tiba-tiba. Tidak mungkin. Pasti ada eksistensi Sang Pencipta.

Setidaknya, ada 3 kemungkinan sifat Sang Pencipta:

  1. Ada yang menciptakan Sang Pencipta
  2. Sang Pencipta menciptakan dirinya sendiri
  3. Sang Pencipta itu bersifat azali

Menurut Anda, yang mana yang benar diantara 3 kemungkinan tersebut? Apakah kemungkinan yang pertama, kedua, atau ketiga? Atau justru benar semua? Mari kita telaah satu per satu..

Pertama, kemungkinan “Pencipta itu ada yang menciptakan”. Mungkinkah? Tidak mungkin. Kalau pencipta itu ada yang menciptakan, berarti bukan dia pencipta. Berarti namanya “yang diciptakan”. “Pencipta” itu bahasa Arabnya “Khalik“. “Yang diciptakan” itu bahasa arabnya “makhluk“.

Kemungkinan kedua, “Pencipta menciptakan dirinya sendiri”, mungkinkah? Tidak mungkin juga. Kalau begitu, berarti dia pencipta sekaligus makhluk. Atau, dia makhluk sekaligus pencipta. Anda pusing? Sama, saya juga.. Nggak kebayang sama sekali.. -_- Ini ibarat pernyataan bahwa ada suatu benda yang sedang bergerak sekaligus sedang diam.. Aduh, bikin error kepala aja..

Maka tinggal satu kemungkinan. Yaitu kemungkinan ketiga. Otomatis, kemungkinan ketiga inilah yang pasti benar. Yakni, Pencipta itu bersifat Azali. Pencipta itu tidak pernah tidak ada. Selalu adaaaaa terus. Tidak berawal dan tidak berakhir, begitulah Azali. Kalau pencipta itu ada awalnya, pastilah ditanya, yang mengawali itu siapa? Yang mengadakan itu siapa? Tidak masuk akal kan.

konsep ketuhanan menurut Islam

Begitulah. Akal kita memahami, bahwa Pencipta itu memang tidak berawal. Wajibul wujud, wajib adanya. Kalau tidak ada Ini, maka makhluk tidak akan ada.

Kesimpulannya, keyakinan yang benar adalah keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada. Sebetulnya tidak sulit untuk membuktikan keberadaan Tuhan, cukup dengan megindera fakta saja.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” [QS. Al-Baqarah: 164]

َأَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” [QS. Al-Ghaasyiyah: 17]

وَإِلَى السَّمَاء كَيْفَ رُفِعَتْ

“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” [QS. Al-Ghaasyiyah: 18]

وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” [QS. Al-Ghaasyiyah: 19]

َوَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Dan Bumi bagaimana ia dihamparkan?” [QS. Al-Ghaasyiyah: 20]

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam” [QS. Al-An’am: 76]

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

“Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.” [QS. Al-An’am: 77]

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. [QS. Al-An’am: 78]

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. [QS. Al-An’am: 79]

Palingan persoalan berikutnya, kalau memang Tuhan itu ada, apa tujuan Tuhan menciptakan kita semua?

Kalau hanya bahas sebatas eksistensi Tuhan, namun tak membahas apa tujuan Tuhan menciptakan ciptaanNya; maka sebetulnya pembahasan ini hanya mengarahkan orang yang tadinya atheis menjadi agnostik. Yang tadinya tidak percaya Tuhan dan agama, menjadi percaya Tuhan tapi tidak percaya agama.

Nah, maka dari itu, silahkan baca artikel berikutnya: Tujuan Hidup Manusia, adalah Tujuan Sang Pencipta Menciptakan Manusia. Apakah Itu? Begini Penjelasannya

BAGIKAN
Dani Siregar
Marketing TeknikHidup.