Cari Ridho Manusia Itu Nggak Akan Ada Habisnya, Berkaryalah Tanpa Khawatir Di-bully Orang

motivasi/cari-ridho-manusia-itu-nggak-akan-ada-habisnya-berkaryalah-tanpa-khawatir-di-bully-orang

Banyak dari kita yang ragu untuk mengatakan sesuatu dan melakukan sesuatu, karena khawatir dikomentari dan di-bully orang lain.

Barangkali Anda pernah mengalaminya? Atau malah sering?

Misalnya mulai berbisnis,  dikatain: “Ih ngapain gitu-gitu, fokus kuliah aja dulu..”, “Ih udah kuliah tinggi-tinggi bukannya ngelamar kerja malah jualan..”.

Misalnya mulai pingin berbagi nikmatnya Islam, malah dikatain: “Halah sok alim”, “Sok suci!”, “Sok Ustadz”, “Sok Ustadzah”, diungkit-ungkit keburukannya, dikatain nggak pantes, dikatain ekstrim, radikal, teroris, dan lain sebagainya.

Pingin ngasih tahu, dikatain sok pintar.

Kalau diam, dibilang pelit ilmu.

Latihan ngomong bahasa Arab, dibilang sombong. Latihan bahasa Inggris, juga dibilang sombong.

Nggak latihan bahasa, dibilang malas belajar.

Mau nikah muda, dikatain genit, kegatalan, dicurigai sudah ‘bablas’.

Padahal niat baik agar tak mau memberatkan orang lain, dikatain nggak tegas.

Ketika serius, dikatain bossy dan diktator.

Sudah membersihkan dan merapikan ruangan di awal waktu. Ketika beberapa saat kemudian diberantakin orang, malah kita yang dituduh dasar pemalas nggak mau rapih-rapihin dan bersih-bersihin.

Kalau rapih-rapih dan bersih-bersihnya saat ada mereka saja, dikatain cari muka.

Kalau berhasil, dicemburui.

Kalau gagal, diejek.

Dan masih banyak contoh lainnya..

Jangan hidup di lidah orang lain..

Saya masih ingat betul nasehat guru saya yang di Bandung, yang pernah ia utarakan malam hari seusai kajian, menjelang pukul 12 malam.. katanya kurang-lebih:

“Antum jangan mau hidup di bawah lidah orang lain. Saya saja itu udah capek hidup di bawah lidah orang lain gitu dari dulu.. Jangan pedulikan komentar orang lain ‘Ih si anu itu kok begini-begitu ya, aneh..’ Antum tetep lakukan aja hal itu. Biarin aja. Nggak usah dipikirin. Selama itu halal, dan tidak melalaikan Antum dari kewajiban.”

Padahal beliau itu ada memberikan banyak nasehat kepada saya, namun salah satu yang senantiasa saya ingat adalah nasehat yang itu.

Artikel Lainnya:  Setelah Memahami 7 Kenyataan 'Pahit' Ini, Anda Akan Jadi Lebih Kuat dan Bijak Menjalani Hidup

Yah, lagi pula, faktanya terkadang hubungan Rumah tangga pun mulai rusak tatkala salah dari mereka atau keduanya suka dengerin komentar orang lain. Padahal tadinya mereka akur-akur saja, tapi ketika dapat komentar, “Ih masa’ suamimu nggak bisa memberikan itu kepadamu.. Suamiku aja selalu memberikan itu padaku..”, jadinya menggoyangkan rumah tangga orang lain.

Bahkan ada pula suatu teori motivasi yang tidak sehat, yaitu ketika cita-cita kita direndahkan, ide kita direndahkan, diri kita tidak dihargai, maka emosi itu kita jadikan untuk bekerja keras membuktikan bahwa cita-cita kita itu dapat diwujudkan, bahwa kita ini bisa, kemudian tunjukkan padanya dan balas tawa bully-nya.

Iya, itu merupakan teori motivasi yang kurang baik.

Sebaiknya, jangan berjuang karena emosi untuk balas dendam. Nggak penting itu. Nggak ada gunanya, dan bahkan nggak ada habisnya. Karena nanti Anda bakal tertuntut untuk terus-menerus membalaskan dendam pada tiap orang yang merendahkan Anda. Padahal, orang yang seperti itu memang akan terus ada, nggak ada habisnya.

Yang penting itu, mendingan Anda berusaha agar diri Anda yang sekarang itu lebih baik dari diri Anda yang dulu. Dan, diri Anda yang esok lebih baik daripada diri Anda yang sekarang.

Itu teori motivasi yang lebih bagus.

Nasehat VS Bullying

Meski bukan berarti kita menjadi orang yang anti-kritik. Tidak. Tentunya, kita pilah-pilih, kan ada komentar yang layak dipertimbangkan, ada juga komentar yang harus diacuhkan.

Komentar maupun kritik yang layak dipertimbangkan adalah, yang berasal dari cinta. Yang mana apabila kita gagal, sakit, maka dia akan sedih. Sementara apabila kita sukses, berhasil, maka dia akan ikut senang. Terlebih lagi komentarnya memang faktanya mengarahkan kita ke jalan yang lurus.

Nah, kalau komentar yang harus diacuhkan, adalah yang sebaliknya. Apabila kita sukses, dia malah dongkol. Kalau kita gagal, dia justru senang. Komentar dari orang seperti ini biasanya tidak argumentatif, tidak faktual, dan tak konsisten. Itu bukan cinta, melainkan bullying.

Artikel Lainnya:  Kata Orang Ini Semua Masalah Bisa Diselesaikan Pakai Uang, Tiba-Tiba Dia Sadar Salah Hanya Karena 'Hal Kecil' Ini

Cukup ridha Allah Swt saja, titik.

Sumber: YouTube

Yah, hidup di bawah lidah orang lain nggak akan ada akhirnya. Yang terbaik, hiduplah untuk mencari ridho Allah Swt. saja.

Toh di akhirat nanti Allah yang menghisab kita, dan memberikan kita balasan atas setiap perbuatan kita.

Sumber gambar: Pixabay

BAGIKAN
Dani Siregar
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar