Membanding-Bandingkan Diri Seseorang dengan Orang Lain? Jangan Sembarangan Lho! Harus Pakai Ilmunya

Membanding-Bandingkan Diri Seseorang dengan Orang Lain? Jangan Sembarangan Lho! Harus Pakai Ilmunya

Terkadang ada orang yang bilang begini ke kita:

  • “Kalau dia aja bisa, kamu harusnya juga bisa!”
  • “Enak ya kalau punya kenalan seperti dia.. bagus gitu.. nggak kayak kamu, jelek banget..”
  • “Kamu kok nggak bisa seperti dia gitu juga?”
  • “Kamu kapan ikut begitu juga?”

Sehingga, kita berusaha sekuat tenaga agar diri kita menjadi seperti orang lain.

Namun sayangnya, beberapa diantara kita ada yang akhirnya jadi stress. Karena tetap aja nggak bisa juga jadi seperti orang lain yang dimaksudnya itu…

Terkadang membanding-bandingkan itu seperti menuntut-nuntut. Maka kadang rasanya nggak enak. Terlebih lagi hal yang dituntut itu sulit untuk ditunaikan, apalagi nyaris mustahil. Namun malah terkesan dipaksa, nah itu yang rasanya nggak enak.

“Berarti, sebaiknya kita nggak usah membanding-bandingkan gitu aja ya?” Menurut saya sih bukan nggak usah. Namun ada kaidahnya, sehingga jangan sembarang membanding-bandingkan. Setidaknya ada 6 hal yang perlu dipahami. Berikut ini dia.

1. Setiap orang punya latar belakang dan garis start yang berbeda, ada kalanya tak cocok dibanding-bandingkan

Iya, terkadang ada praktek pembanding-bandingan yang nggak cocok, terkesan terlalu dipaksakan.

Misalnya, kita membanding-bandingkan diri orang yang bisa push up 50 kali, dengan diri kita yang push up 10 kali saja sudah ngos-ngosan. Bisa jadi ini nggak cocok. Karena, orang tersebut jam terbangnya sudah tinggi. Dia sudah latihan sejak beberapa tahun yang lalu, sedangkan kita baru beberapa hari saja.

Contoh lain, ada orang yang diberi amanah sebagai ketua organisasi. Ternyata, kinerjanya bisa dikatakan kredibel. Karena, memang dia sudah pengalaman jadi ketua sebelumnya. Begitu pula misalnya saat dia mendirikan sebuah bisnis, leadership-nya tentu tidak perlu diragukan lagi, karena sudah biasa dan banyak pengalamannya.

Lain halnya dengan kita yang baru mulai, wajar saja kita masih banyak salah-salah. Namanya juga baru jalan. Tapi tentunya kita senantiasa mengevaluasi, dan mempraktekkan tiap-tiap pelajaran yang kita dapat.

Maka, tidaklah cocok bagi orang yang sudah duluan melangkah dari garis start, kemudian berjalan.. dengan kita yang baru saja di garis start.

2. Kalau untuk target awal, yang penting jadi lebih baik dari sebelumnya aja. Nggak usah pakai perbandingan orang

Kalau soal target awal, ada baiknya kita nggak usah mikir gimana agar jadi seperti orang lain yang hebat itu. Baiknya, target awal kita adalah menjadi lebih baik dari hari kemarin aja. Yups, itu dulu saja.

Artikel Lainnya:  20 Hal yang Harus Anda Hentikan, Di Umur Anda Ke-20 Ini Agar Jadi Dewasa dan Bijaksana

Kemarin kualitas dan kuantitas kapasitas kita gimana, maka hari ini harus lebih baik dari kemarin itu. Yang gagal dan jelek diperbaiki, sedangkan yang sudah bagus ditingkatkan lagi.

Begitu pula untuk esok hari kapasitasnya harus lebih baik daripada kapasitas hari ini.

Nggak usah lirik-lirik kehebatan orang lain dulu. Perbaiki dan tingkatkan saja kondisi yang sekarang.

3. Membanding-bandingkannya bukan dalam rangka menyamakan target, tapi sekadar inspirasi biar semangat bergerak saja

Membanding-bandingkan itu sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Terkadang memang rasanya tidak enak. Tapi terkadang ada bagusnya juga, bikin kita semangat. Misalnya, saat kita membaca kehidupan Rasulullah dan para sahabat, membaca sejarah pahlawan, membaca kisah inspiratif pengusaha, dan sebagainya.

Nah, terkait hal ini, maka ada baiknya bila kita ingin membanding-bandingkan, cobalah katakan dalam bentuk cerita dan kisah. Jangan dalam bentuk kalimat perintah, apalagi seperti menagih hutang. Juga jangan sambil mengungkit-ungkit kekurangan seseorang yang hendak dibanding-bandingkan.

Saya pribadi berpengalaman pernah dibandingkan-bandingkan. Memang ada hal yang kurang pada diri saya, harus diperbaiki. Sehingga ada satu orang yang membanding-bandingkan diri saya namun rasanya nggak enak, karena dia seperti menjatuhkan. Namun ada seseorang yang lain yang dia memberikan cerita inspirasi, sehingga saya semangat untuk berubah dan memperbaiki diri.

Nah, kedua orang tersebut sama-sama membanding-bandingkan diri saya, namun yang satunya asal-asalan, sedangkan yang satunya lagi dengan memberikan semangat dan inspirasi. Yang satunya ngeselin, yang satunya berhasil bikin terharu.

4. Biar diri kita sendiri saja yang membandingkan diri kita dengan seseorang

Ada kalanya pula kita keburu emosian duluan daripada melihat pesan seseorang tatkala kita dibanding-bandingkan.

Nah, maka dari itu, ada baiknya cukup diri kita saja yang membanding-bandingkan diri kita sendiri dengan orang lain. Agar tidak terkesan seperti diri kita disudutkan dan dijatuhkan.

Artikel Lainnya:  5 Perbedaan antara "Minta tolong" dengan 'Memaksa"

5. Pastikan yang hendak dibanding-bandingkan itu sudah cukup dewasa, jangan orang yang baperan 

Namun ada juga tipe orang yang sering bahkan nyaris selalu tidak suka kalau dirinya dibanding-bandingkan orang lain. Nah, kalau memang dia selalu baper seperti itu ada baiknya tidak usah dibanding-bandingkan.

Namun ada juga tipe orang yang dia cukup dewasa dan mampu bersikap proporsional. Bagi dia, tidak masalah mendapatkan nasehat dengan nada yang sejuk ataupun kritikan dengan nada yang keras, dia senantiasa menerima apapun masukan dari orang lain. Nah kalau yang seperti itu, mungkin tidaklah mengapa bila dirinya dibanding-bandingkan.

Intinya, kita harus bisa teliti dan paham watak seseorang itu bagaimana. Lihat itu dulu. Ada yang memang nggak cocok dibanding-bandingkan, ada yang mudah menerima, ada yang bisa menerima tapi dengan cara-cara tertentu.

6. Kalau bukan sesuatu yang wajib hukumnya menurut Islam, tak usah dipaksakan

Terkadang membanding-bandingkan itu kesannya seperti menuntut-nuntut. Padahal, tidak setiap tuntutan harus dipenuhi. Kalau dipaksakan, yah nggak enak. Maka, cukup sebagian saja. Terutama yang memang wajib hukumnya menurut Islam. Yang bila dikerjakan maka berpahala, namun bila ditinggalkan maka berdosa.

Toh kalau memang wajib bagi kita semua, pasti kita bakal merenung ada benarnya juga bahwa diri kita ini masih banyak lalai, dan memang yah wajib harus seperti orang yang dibanding-bandingkan tersebut.

Namun kalau bukan persoalan yang wajib, yah tidak usah dipaksakan. Ini nih yang kadang bikin orang banyak stress. Selalu hidup di bawah lidah orang lain. Orang lain ngomong apaan, harus selalu diikuti gitu juga..

Ah, jangan.. nggak usah.. itu namanya menyiksa diri sendiri.. kan nggak wajib..

Utamakan yang wajib saja.

BAGIKAN
Mufakir adalah seorang otaku tobat yang merasa dirinya masih belum banyak bermanfaat bagi orang lain, dan berusaha selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. Baginya sukses itu sederhana, yaitu hari ini lebih baik dari hari kemarin. Passion menulis artikel seputar motivasi dan produktivitas.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar