Pertumbuhan dan Perkembangan Anak PraSekolah (Usia 3-6 Tahun)

pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah

Anak kecil belum dapat membedakan antara melakukan satu aktivitas dengan bermain.

Anak kecil akan asyik dengan aktivitas yang dia lakukan, karena dorongan dari dirinya sendiri. Seperti mendengarkan cerita atau bermain dengan boneka, atau alat mainan lainnya.

Anak kecil akan memperhatikan sekelilingnya. Sampai-sampai ia akan bisa lupa makan dan lupa waktu.

Ia tidak akan berhenti melakukan aktivitasnya jika aktivitas itu sangat menarik baginya.

Anak kecil akan bermain menggunakan apa saja yang ditemukannya. Jika sebuah sendok besar jatuh di tangannya, dan sebuah penggorengan, maka ia akan merasakannya dengan lidahnya dan memukul penggorengan dengan menggunakan sendok, dan mendengarkan suara yang dihasilkan.

Ia akan berusaha meletakkan penggorengan di atas sendok. Lalu ia akan membalikkan penggorengan dan menyembunyikan sendok di bawah pengggorengan, lalu mengeluarkannya lagi.

Jika ia belum menemukan hal baru, ia akan terus tertarik dengan hal itu.

Ia akan berusaha menemukan sesuatu yang lain untuk ia gunakan bermain.

Aktivitasnya akan bertambah jika kepadanya ditambahka sesuatu yang lain untuk dia gunakan bermain, seperti pasir, air kerikil, boneka, jepitan, tutup botol, dan lain-lain.

Anak-anak dengan permainannya itu ia akan mengenal karateristik sesuatu yang tampak. Maka ia akan mengetahui bagaimana ia bergerak, naik, turun. Ia akan belajar bagaimana menyesuaikan, menyocokkan, dan memasukkan sebagian ke sebagian yan lain, …. dan lain-lain.

Anak-anak akan belajar bagaimana menggunakan anggota-anggota tubuhnya. Bagaimana menggerakkan kedua lengannya, kakinya, badannya, ke arah yang berbeda-beda. Bagaimana menggunakan jari-jemari dan kedua tangannya.

Setiap kali aktivitas pergerakan si anak bertambah, maka kecenderungannya untuk mencari dan mengenal lingkungannya juga akan bertambah.

Anak wajib didorong sekuat-kuatnya untuk itu. Tanpa ada kepentingan, anak jangan sampai dihentikan dari semua aktivitasnya yang memuaskan rasa keingintahuannya itu, kecuali dalam dua kondiri.

  1. Jika si anak sampai melakukan satu aktivitas yang berbahaya, atau mengganggu dirinya sendiri atau orang lain.
  2. Jika si anak berusaha merusak milik orang lain atau barang yang berharga.

Pada kedua kondisi tersebut, anak harus dihentikan seketika dan secara tegas.

Ibu atau siapa saja yang menjaga anak itu harus secara terus-menerus memonitornya sementara si anak bergerak ke sana ke mari di lingkungannya. Sebagaimana bagi si anak, harus tersedia prasyarat bagi keselamatannya.

Hendaknya disediakan baginya tempat-tempat di mana dia bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik.

Cara paling baik untuk mengentikan aktivitas anak yang berbahaya pada usia kurang dari satu tahun adalah, mengalihkan perhatiannya dari aktivitas yang dilakukannya dengan jalan mengalihkan perhatiannya kepada sesuatu yang lain, atau kegiatan pengganti.

Jika anak berupaya menyentuh sesuatu yang terlarang, maka tangannya wajib dialihkan secara lembut agar jauh dari sesuatu itu. Hendaknya kepadanya dikatakan dengan perkataan yang bisa dia pahami bahwa perbutannya itu dapat menyakitkannya atau menyakiti orang lain.

Adapun jika anak pada usia 2 atau 3 tahun dan melakukan tingkat laku yang membahayakan dirinya sendiri atau orang lain, maka ibu wajib memupus perhatian si anak kepada perbuatannya itu.

Ibu harus berusaha menggunakan sarana yang ia miliki seperti dengan menunjukkan perubahan mimik atau dengan suara yang tegas.

Jika si anak tetap melanjutkan perbuatannya, maka ibu wajib memindahkan si anak ke tempat lain.

Pada semua kondisi itu, ibu harus tetap tenang dan tidak gampang memukul (main fisik).

Sarana paling baik untuk menangani anak seperti itu adalah, dengan mengasingkan si anak dalam waktu yang singkat di tempat yang kosong dari sarana-sarana yang menyenangkannya (sebagai suatu pengisolasian). InsyaAllah persoalan ini detailnya akan dibahas di artikel lainnya.

Pada permulaan tahun kedua, anak mulai merasakan putaran letupan emosional yang luar biasa. Pada masa ini, ibu memiliki kemungkinan untuk mengarahkan dan mengajarii anaknya tingkah laku yang baik.

Akan tetapi pada saat yang sama, ibu tidak dapat memaksa anaknya untuk bisa mengambil manfaat penuh seperti yang diinginkannya, atau mengharap si anak dapat menerapkannya secara sempurnah.

Karena anak pada masa ini, belum bisa memahami kaedah-kaedah tingkat laku yang wajib dia gunakan snebagai dasarnya.

Ia belum bisa memikirkan, misalnya perkataan ibunya: “Yang lembut terhadap anak kucing”. Ia belum memahami buruknya apa yang ia lakukan, yakni jika ia menyeberang jalan yang ramai dengan kendaraan. Atau jika ia berbuat secara spontan, ia belum bisa menyadari akibatnya.

Perbuatan-perbuatannya secara spontanitas itu, terkait dengan dorongan-dorongan instant yang muncul seketika itu juga. Ia tidak akan menunda pemenuhannya tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

Adakalanya kondisi demikian berlangsung beberapa tahun.

Ibu harus mengarahkannya dengan konsisten, tapi bijaksana. Dengan tetap memperhatikan untuk tidak menghalangi anak dari kesukaannya dan perasannya pada suatu kesempatan.

Karena kasih sayang ibu dan penghormatan ibu kepada anaknya merupakan sumber yang akan memancarkan kecintaan dan penghormatan anak kepada ibu, dan juga kepada orang lain.


Refrensi: As-Sabatin, Najah. 2013. Dasar-Dasar Mendidik Anak (Usia 1 – 10 Tahun). Bogor: Al-Azhar Freshzone Publishing.

YUK USAHAKAN ANAK KITA MENJADI SHOLEH & SEHAT, DAMBAAN KELUARGA & PERADABAN! 😊

Dapatkanlah konten-konten ilmu parenting Islami melalui email Anda!

Daftarkan email Anda pada Newsletter Syi’ir!