Mencantumkan Nama Penulis dan Desainer itu Penting, Biar Jelas Siapa Penanggung Jawabnya

Mencantumkan Nama Penulis dan Desainer itu Penting, Biar Jelas Siapa Penanggung Jawabnya

Saya itu paling males ‘mengonsumsi’ konten-konten (khususnya di internet) yang author-nya anonim. Alias, tidak jelas siapa yang membuat ataupun yang bertanggung jawab atas konten tersebut.

Termasuk artikel-artikel spam nggak jelas yang kebanyakan sih hanya menggunakan domain gratisan .blogspot.com dan .wordpress.com. Tentunya saya tidak menggeneralisir bahwa yang domain gratisan itu spam. Banyak juga kok walau domain default tapi blognya kredibel. Hanya saja, yang spam itu biasanya cuman menggunakan domain gratisan doang.

Selain artikel, tentunya termasuk grafis quotes, meme, dan sebagainya.

Dan tentunya juga termasuk poster, spanduk, dan sebagainya yang di jalan-jalan.

Kenapa bisa seperti itu, ada beberapa kemungkinan alasan mereka tak mencatut namanya di situ.

1. Lupa

Nah, kalau soal lupa, saya kira tak perlu begitu dipersoalkan. Namanya juga lupa, yah wajar.

Asal lupanya jangan berkali-kali. Kalau berkali-kali, itu namanya hobi, hehehe.

2. Merasa tidak begitu penting

Kalau soal merasa tidak penting, ada baiknya yang bersangkutan merenungkannya. Ada kalanya konten yang kita produksi tersebut akan mendapatkan respon, dan orang lain hendak menggali informasi lebih lanjut. Maka, penting tentunya mencantum siapa penanggungjawab konten tersebut.:

  • Bisa jadi orang kepingin ‘mengonsumsi’ lebih banyak konten sejenis lagi
  • Bisa jadi konten tersebut ambigu, sehingga orang perlu mengklarifikasinya
  • Bisa jadi konten tersebut ada yang kurang tepat, sehingga orang lain perlu memberi masukan agar direvisi
  • Atau ada keperluan lainnya

3. Malu, nggak pede

Kalau soal malu atau nggak pede, saya kira tidak perlu malu kalau hanya mencantum nama saja. Kan tidak mesti sambil memaparkan foto.

Atau, jika memang memaparkan nama saja pun malu, maka alternatif lainnya, bisa juga menggunakan nama samaran, nama brand, nama pena, atau nama lainnya.

Artikel Lainnya:  Cara Membersihkan Laptop dari Debu, Selain Harus ke Tempat Service

Menurut saya walau nama samaran bukan nama asli itu tidak apa-apa, daripada anonim nggak ada sama sekali penanggung jawabnya. Namun tentunya asal bisa dikontak saja. Seperti misalnya akun publik gitu. Jangan menggunakan nama samaran tapi nggak bisa dikontak, itu bisa jadi namanya nggak bertanggung jawab juga, hehehe.

4. Khawatir jadi ujub

Kalau soal khawatir jadi ujub, ketahuilah sesungguhnya mencantumkan nama itu tidak satu paket dengan ujub. Ujub itu bukan soal eksisnya, tapi lebih ke amalan hati. Ada baiknya yang bersangkutan coba kaji lagi pembahasan tentang ujub yang telah banyak dibahas oleh para ulama mu’tabar.

Toh para ulama juga sangat paham betapa pentingnya sanad itu. Mencantumkan author itu bagian dari sanad kan? Kalau para ulama khawatir ujub sehingga tidak mencantumkan nama, maka jadinya sanad mereka terputus dong. Nah, maka dari itu, mencantumkan nama itu bukan masalah.

5. Khawatir dirinya bakal bermasalah; karena kontennya itu hoax, fitnah, negatif, provokatif, hate speech, dan sebagainya yang berpotensi dirinya bakal bermasalah

Nah yang jadi persoalan adalah yang kemungkinan kelima ini nih. Kemungkinan yang kelima inilah yang biasanya menjadi motif pembuat konten-konten sampah. Mereka khawatir dirinya bakal bermasalah; karena kontennya itu hoax, fitnah, negatif, provokatif, dan sebagainya yang berpotensi dirinya bakal bermasalah.

Yang kayak begini yang saya males banget. Ibarat bocah yang melakukan hal iseng dan jahil terhadap temannya, kemudian dia segera bersembunyi agar tak ketahuan. Kenapa dia sembunyi, karena dia tahu yang dilakukannya itu salah.

Mereka memfitnah mengatakan orang lain sesat, perusak, berbahaya, jelek, dan sebagainya; tapi sayangnya kita tidak diberi izin untuk mengklarifikasi maupun menggali lebih lanjut maksud pernyataannya itu apaan. Komunikasi saja tidak bisa, apalagi ketemuan.

Artikel Lainnya:  5 Cara Mengeringkan Sepatu dengan Cepat, Penting Disimak Nih, Apalagi Sekarang Musim Hujan

Hufft… Anda pun pasti males banget dengan konten-konten provokatif seperti itu kan?

Nah, maka dari itu, saya mengajak kepada kita semua, yuk mari jadi orang yang senantiasa bertanggung jawab. Cantumkan nama kita bila kita memproduksi suatu konten. Baik itu artikel, grafis quotes, grafis meme, dan lain-lain. Ini bukan soal narsis dan alay, melainkan yah itu soal tanggung jawab.

Jangan mau dibohongin dan dibodoh-bodohi pakai konten spam tak bertanggung jawab, hehehe…

Sumber gambar: Pixabay.com

BAGIKAN
Dani Siregar
Al-Faqir ilAllah. Menekuni dunia blogging dan Search Engine Optimization Marketing sejak tahun 2011. Suka martabak dan es krim. Hidup untuk mabda' Islam.

Bagaimana menurut Anda?

Komentar